Minggu, 21 Agustus 2011

Mereka Ada di Jalan


Mentari beranjak ke arah barat, sholat ashar kutunaikan sudah. Kuambil segelas air dari dispenser yang ada di ruang makan. Kulihat jam di dinding, tepat setengah empat. Tak lama setelah gelas kutaruh kembali ke meja makan terdengar suara dari luar. “Jo! Joan! Main bola yuk!”. Dengan sedikit berlari aku menuju pintu depan rumah. Ah, teman-teman kampung. “Tunggu sebentar, aku ganti sarung dulu.”, jawabku.

Tak lebih dari semenit aku keluar dengan seragam kebesaranku, kaos Persebaya Surabaya dan celana training warna pink. Perduli amat, tinggal ini yang ada di lemari pakaianku. Maklum, belum sempat nyuci baju. Kukeluarkan sepeda kesayanganku, berpamitan dengan Ibu yang sedang masak di dapur dan plas…

Motor dan Kenangan


Bagi banyak orang, mungkin motorku sudah layak untuk segera dimusiumkan. Namun aku berpendapat lain. Terlalu banyak kenangan yang aku punyai dengan motor ini. Berderet-deret peristiwa dan kejadian yang telah kulalui dengan motor butut ini. Motor ini pernah sangat berjasa mengantarku ke sekolah tiap hari di tiap pagi sewaktu masih SMA dulu, mulai dari kelas satu hingga akhirnya aku lulus. Motor yang setia mendengar keluh kesahku dikala aku sedang gelisah, menemaniku menghabiskan malam sambil duduk merenung di sudut remang kota. Motor yang mengajarkan padaku, bahwa ternyata hidup prihatin itu bisa pula dinikmati.

Catatan dari Perjalanan


Jarum jam di dinding stasiun menujukkan pukul sembilan lewat. Pesan singkat yang aku kirimkan belum pula ia balas. Aku pun bingung. Kuputuskan saja untuk tetap menunggu di sini. Toh kami sudah berjanji akan bertemu di stasiun ini tepat pukul sembilan.

Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Ternyata dari dia. Ups, baru berangkat dari kos. Wah bisa lama menunggu aku di sini. Biarlah… Aku keluarkan sebuah buku dari tasku. Sekedar mengisi waktu daripada hanya diam menunggu.

Sahabat


Satu demi satu, motor yang terparkir di garasi samping rumah aku keluarkan ke teras depan. Memang hari masih pagi, teman-teman yang lain masih tertidur dengan pulasnya. Kecuali Rama yang semenjak shubuh tadi pergi untuk mengantar koran, dia memang nyambi kerja sebagai loper koran. Jam di dinding masih menjukkan pukul enam kurang lima belas menit. Tak mengherankan memang, tadi malam kita begadangan sampai adzan shubuh terdengar. Entah mengapa, tiba-tiba kami berkeinginan untuk sekedar berbagi cerita. Sesuatu yang sudah mulai jarang kita lakukan. Terutama ketika berbagai macam praktikum dan laporan sudah mulai menerjang tanpa henti. Memang berbagi cerita menjadi hal yang sering kami lakukan ketika memasuki masa awal-awal kuliah.

Anak yang Tidak Dekat Dengan Orang Tua


Sebuah pertaruhan yang sangat berat, antara meninggalkan perkerjaan atau memilih mengasuh anak-anak. Jika salah satu ditinggalkan maka akan terjadi ketimpangan. Problem seperti itu merupakan masalah begi sebagian besar orang tua tunggal. Namun anda tidak perlu khawatir sebab masalah apapun pasti ada jalan keluarnya.

Yakinlah anda bisa dekat dengan anak-anak. Tetapi bukan jalan terbaik bila mengatasi masalah itu harus meninggalkan pekerjaan, terlebih anda merupakan sumber utama keuangan keluarga. Akan lebih baik bila anda mengajukan pindah ke kantor yang lebih dekat dengan rumah anda, sehingga waktu berangkat dan pulang tidak banyak terbuang di jalan. Pagi hari anda masih bisa menyiapkan makanan dan sore hari bisa segera bertemu anak-anak.

Abu Nawas dan Harimau Berjenggot

"Hai Abu Nawas," seru Khalifah Harun Al-Rasyid. "Sekarang juga kamu harus dapat mempersembahkan kepadaku seekor harimau berjenggot, jika gagal, aku bunuh kau." Kata-kata itu merupakan perintah Sultan yang diucapkan dengan penuh tegas dan kegeraman. Dari bentuk mulutnya ketika mengucapkan kalimat itu jelas betapa Sultan menaruh dendam kesumat kepada Abu Nawas yang telah berkali-kali mempermainkan dirinya dengan cara-cara yang sangat kurang ajar. Perintah itu merupakan cara Baginda untuk dapat membunuh Abu Nawas.

Senin, 17 Januari 2011

Apakah cinta sejati itu??

Pada suatu hari, seseorang bertanya pada gurunya :
"Apakah cinta sejati itu??"
Guru menjawab : "Berjalanlah lurus di taman bunga yang luas..!!
Petiklah satu bunga yang terindah menurutmu, dan  jangan pernah berbalik ke belakang..!!"
Kemudian dia melaksanakannya dan kembali dengan tangan hampa..
Guru bertanya : "Mana bunganya..??"
Dia menjawab : "Aku tidak bisa mendapatkannya..

Selasa, 28 Desember 2010

Kebodohan Bahasa di Malaysia


INDONESIA : Kementerian Hukum Dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh

INDONESIA : Kementerian Agama
MALAYSIA : Jabatan Kemajuan Islam Malaysia

Rabu, 01 Desember 2010

Semua karena aku sayang kamu

Ada seorang cewek dan cowok sedang berboncengan naik motor. Dan kecepatannya 120 km/jam.
Cewek : Sayang, pelan-pelan aja.. Aku takut..
Cowok : Gak ah.. It's fun..
Cewek : Gak, gak asyik tau..!! Please, aku takut banget..
Cowok : Kalau kamu mau aku turunin kecepatannya, bilang dulu kalo kamu sayang aku..
Cewek : Oke,, Aku sayaaaaaaang banget ama kamu.. Sekarang turunin kecepatannya..!!
Cowok : Nanti dulu.. Kalau kamu peluk aku, baru aku kabulin..
Cewek : (Peluk cowoknya..)
Cowok : Sekarang kamu lepasin helm di kepalaku, dan kamu harus pake' helmnya..
Cewek : (Nurut..)